Rabu, 05 Januari 2011

  • Tahun Baru, Bencana (Semoga) Berlalu

    (okezone.com)Dunia sudah memasuki tahun baru 2011. Bagi bangsa Indonesia, tentunya juga bangsa-bangsa yang lainnya, tahun baru menjadi lembaran baru untuk menuliskan kisah-kisah baru, menyemai harapan-harapan baru, dan mewujudkan mimpi-mimpi baru, yang tersimpul dalam jargon: perubahan dan kemajuan. Berubah ke arah yang lebih baik dan menjadi makin maju.


    Tahun bencana

    Tahun 2010 bagi bangsa Indonesia menjadi tahun yang menyedihkan. Berbagai bencana sepanjang tahun itu terjadi dengan korban manusia dan harta benda yang cukup banyak dan besar. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2010 di Indonesia terjadi sekira 644 kejadian bencana. Jumlah meninggal mencapai 1.711 orang. Menderita dan hilang sekitar 1.398.923 orang. Rumah rusak berat 14.639 unit, rusak sedang 2.830 unit, dan rusak ringan 25.030 unit.

    Dari 644 kejadian bencana tersebut, sekira 81,5 persen atau 517 kejadian bencana adalah bencana hidrometerologi. Sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus masing-masing terjadi 13 kali (2 persen), 1 kali (0,2 persen), dan 3 kali (0,5 persen). Namun jumlah kerugian yang ditimbulkan oleh bencana geologi tersebut besar. Bencana hidrometeorologi terjadi rata-rata hampir 70 persen dari total bencana di Indonesia.

    Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah kejadian dan korban serta kerugian yang ditimbulkan bencana lebih kecil pada tahun 2009. Pada tahun 2009, jumlah kejadian bencana mencapai 1.675 kejadian. Jumlah korban meninggal mencapai 2.620 orang, menderita dan mengungsi sekitar 5,5 juta orang, dan menimbulkan kerusakan rumah mencapai lebih dari 500 ribu unit. Pada tahun 2009 bencana gempa bumi di Jawa Barat dan Sumatera Barat menjadi bencana terbesar.

    Pada tahun 2010, bencana besar yang terjadi di Indonesia antara lain: tanah longsor di Ciwidey Jawa Barat (Februari) yang mengakibatkan 44 orang meninggal, banjir di hulu dan hilir sungai Citarum Jawa Barat (Maret) yang menyebabkan sekira 105 ribu lebih orang mengungsi. Banjir bandang Wasior (Oktober) dengan korban 291 orang meninggal. Kemudian gempa bumi dan tsunami di Mentawai dengan korban 509 orang tewas, dan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebabkan 386 orang meninggal.

    Melihat perbandingan bencana 2009 dan 2010, ada penurunan. Diharapkan, di tahun 2011 akan semakin menurun, bahkan tidak ada bencana sama sekali. Atau, kalaupun ada, skalanya kecil dan korban jiwanya sedikit. Peran masyarakat dalam mengantisipasi kemungkinan munculnya bencana sangat diperlukan. Selain itu, dan ini yang utama, peran pemerintah dalam memberikan informasi, terutama untuk daerah-daerah yang rawan bencana. Juga kesigapan pemerintah dalam proses penanggulangan. Lebih daripada itu, melakukan upaya-upaya antisipatif-preventif untuk mencegah atau meminimalisasi dampak destruktif bencana yang lebih besar.

    Tahun tanpa bencana
    Bencana alam, di mana pun itu, selalu menelan korban jiwa dan kerusakan fisik. Bencana alam yang sifatnya natural, seperti gunung meletus, tsunami, dan gempa bumi, tidak ada yang bisa memastikan datangnya. Manusia hanya dapat memprediksi dan mengantisipasi seminimal mungkin dampak destruktifnya. Di tingkat inilah manusia bisa berupaya. Selain bencana alam yang sifatnya natural, ada juga yang sifatnya kelalaian atau ulah tangan manusia, seperti banjir karena penebangan hutan secara liar tanpa reboisasi, atau budaya buruk di pinggir-pinggir sungai.

    Negeri ini memang negeri rawan bencana, karena struktur geologi dan topografi dengan rangkaian gunung berapi yang dimiliki membuat negeri ini masuk dalam ring of fire. Tapi, ini tidak bisa dijadikan sebagai alasan pemerintah tidak mampu melakukan upaya dan langkah antisipasi secara maksimal. Pemerintah memiliki peta bencana, atau peta daerah-daerah yang harus diwaspadai akan terjadi bencana. Dari mulai daerah yang mudah dijangkau, hingga yang sulit. Ini tentunya sangat penting. Pengalaman di Wasior dan Mentawai mestinya menjadi pelajaran yang berharga. Kedua tempat itu termasuk sulit dijangkau, karena medan berat dan infrastruktur transportasi yang baik tidak ada. Dengan peta bencana itu, daerah-daerah yang sulit dijangkau perlu diperhatikan secara ekstra.

    Cukuplah tahun 2010 sebagai pelajaran berharga. Bahwa kita berada di negeri rawan bencana. Kita perlu banyak belajar dari Jepang, negeri yang juga rawan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami, tapi berhasil meminimalisasi dampak destruktif yang ditimbulkannya. Keberhasilan Jepang tidak lepas dari peran berbagai elemen, dari mulai pemerintah hingga perangkat desa, dengan melibatkan para ilmuwan, serta melakukan berbagai pengembangan dan penggunaan teknologi baru. Intinya, semua pihak secara massif berperan serta untuk menghadapi bencana. Bencana di Jepang bukan hal yang diratapi, tapi justru sesuatu yang harus dihadapi dengan optimalisasi segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

    Tahun 2011 tentu kita berharap tidak ada lagi bencana, apalagi bencana yang berskala besar. Tapi semua juga tergantung dengan manusia-manusia di negeri ini. Berbagai bencana yang terjadi menjadi isyarat, tanda, atau sinyal, bagi negeri ini untuk segera berbenah dan mengintrospeksi diri. Jika tahun kemarin para pemimpin dan pengelola negara banyak sekali mengecewakan rakyat, tahun ini sudah saatnya membahagiakan rakyat. Jika rakyat bahagia, alam pun rasanya enggan untuk merusak kebahagiaan itu.
  • 0 komentar:

    Poskan Komentar

    Search....

    Doa Seorang Anak Pada Saat Wisuda Mahasiswa/i Medicom

    ingin memberikan komentar tentang video ini, Silahkan klik disini». Terima Kasih

    Copyright @ 2013 Sahabat Medicom.