We Help You To Renovate Your Blogger Blog With Awesomeness!

Tampilkan postingan dengan label Dikti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dikti. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

  • Dilema PTN vs PTS

    kampus.okezone.com FENOMENA Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang merupakan ajang kompetisi akbar tahunan bagi calon mahasiswa baru yang memiliki impian untuk meneruskan jenjang pendidikan ke bangku kuliah tentunya dirasakan berbeda-beda oleh peserta.

    Ada yang berbahagia karena cita-citanya untuk bergabung dengan perguruan tinggi negeri (PTN) favorit akhirnya terwujud, namun ada juga yang merasa kecewa dan terpaksa gigit jari karena gagal dalam proses seleksi hingga akhirnya menjadikan perguruan tinggi swasta (PTS) sebagai alternatif daripada menganggur atau menunggu SNMPTN tahun berikutnya.

    Namun, hal paling menarik sebagai suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri, yakni SNMPTN terkadang juga menjadi ajang adu gengsi bagi calon mahasiswa maupun keluarga calon mahasiswa untuk menorehkan nama di sejarah civitas academica PTN favorit.

    Anggapan masyarakat bahwa dengan kuliah di PTN seperti UI, ITB, UNPAD, IPB, UGM maka secara tidak langsung akan ”meluruskan” jalan meniti masa depan kelak, setelah lulus dari perguruan tinggi. Sehingga kebangaan menggunakan almamater dari perguruan tinggi negeri tersebut menjadi euforia bernuansa intelektual.

    Pertanyaan besar kemudian muncul, ”Benarkah dengan masuk ke PTN maka secara langsung maupun tidak langsung akan mempermudah jalan menuju kesuksesan di masa depan?” Terlalu naif rasanya jika harus membenarkan pertanyaan tersebut. Keberhasilan atau kesuksesan seseorang terlalu sempit jika harus menggunakan institusi pendidikan sebagai alat ukurnya.

    Pendidikan bukanlah sebuah institusi atau merk dagang. Pendidikan adalah sebuah proses panjang pembelajaran dan pengalaman yang terakumululasi dalam sebuah praktik nyata, tidak hanya soal ilmu pengetahuan yang mumpuni tetapi juga moral dan etika kehidupan yang beradab.

    Di sisi lain, SNMPTN juga seolah menjadi pembatas kesenjangan antara si pintar dan si bodoh. Anggapan bahwa orang-orang yang berhasil tembus di SNMPTN sebagai orang-orang pilihan yang pintar dan berhak mendapatkan pendidikan bermutu terbaik di perguruan tinggi ternama melekat kuat dalam anggapan masyarakat. Padahal faktor luck dan ”kecurangan” bisa saja mewarnai pelaksanaan SNMPTN. Sehingga tidak jarang orang-orang pintar yang kurang beruntung terpaksa gigit jari dan frustasi pasca pengumuman SNMPTN. Hal ini secara tidak langsung memberikan tekanan psikologis bagi mereka dalam mengarungi jenjang pendidikan selanjutnya. Fenomena ini tentunya menjadi ironi tersendiri yang memprihatinkan mengingat banyak generasi muda yang berpotensi namun kurang mendapat perhatian atas talenta mereka.

    PTS lantas menjadi alternatif bagi mereka yang gagal dalam SNMPTN. Namun, PTS bukanlah ”tempat buangan” seperti anggapan kebanyakan orang. Jika diperhatikan secara seksama, kualitas PTS tertentu sebenarnya tidak kalah dengan PTN kebanyakan, baik dari segi sarana dan prasarana, tenaga pendidikan, juga kurikulum ajar yang baik pada setiap program studi yang ditawarkan.

    Pada dasarnya, keberhasilan pendidikan seseorang ditentukan oleh setiap individu masing-masing. Proses pembelajaran dan motivasi berperan penting bagi individu untuk selalu berkarya dan berprestasi. Tidak penting dari perguruan tinggi mana seseorang berasal tetapi lebih menekankan pada sejauh mana seseorang mampu konsisten dalam berprestasi.
  • Sabtu, 23 April 2011

  • Bayar Kuliah Sendiri, Yuk!

    OKEZONE - Kamu mau kuliah tapi tak ingin membebani orangtua? Simak tawaran menarik dari Sampoerna School of Education (SSE) berikut ini!

    SSE merupakan sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan yang memiliki misi melahirkan generasi baru guru Indonesia. Saat ini, SSE menyelenggarakan program sarjana (S-1) keguruan dengan dua pilihan program studi, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Bahasa Inggris.

    Kamu yang berminat merintis karir di dunia pendidikan bisa mengikuti Student Financing Program dari SSE. Program ini menyediakan bantuan biaya pendidikan selama empat tahun.

    Dengan menjadi peserta Student Financing Program, kamu tidak perlu pusing memikirkan biaya kuliah. Tapi, kamu akan diberi kesempatan mengembalikan biaya kuliah itu secara mengangsur dengan hasil kerjamu setelah lulus nanti. Asyik kan?

    "Program ini menyediakan kemudahan, fleksibel, serta tanpa bunga," demikian seperti dikutip dari keterangan tertulis PSF, Rabu (20/4/2011).

    Nantinya, kamu hanya perlu menyisihkan 25 persen dari penghasilan per bulan sebagai cicilan pengembalian biaya kuliahmu. Melalui program ini pula, kamu memiliki kesempatan memperoleh tunjangan biaya hidup selama empat tahun.

    Mau tahu syaratnya? Isi formulir pendaftaran yang dapat kamu unduh dari laman http://www.sampoernaeducation.ac.id/en/admission.php atau dengan mengirimkan email ke alamat emawati@sampoernaeducation.ac.id.

    Lengkapi formulir pendaftaranmu dengan fotokopi rapor nilai kelas 11 (semester satu dan dua) serta kelas 12 (semester satu) yang telah dilegalisasi. Kamu yang lulus tahun 2009 dan 2010 wajib menyertakan fotokopi hasil ujian akhir nasional (UAN) sekolah menengah atas (SMA).

    Sertakan juga dua lembar fotokopi kartu identitas, dua lembar pasfoto terakhir ukuran 4x6 dan berwarna, fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) orangtua, fotokopi kartu keluarga (KK), surat keterangan kesehatan, serta dokumen pendukung seperti tagihan listrik, PAM, dll.

    Kamu juga harus melampirkan dua surat referensi dari dua orang yang paling mengenalmu semasa SMA. Orang itu bisa jadi kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, atau guru bimbingan dan konseling (BK).

    Buruan daftar ya! Tenggat waktu pendaftaran gelombang dua Student Financing Program adalah 28 April 2011, dan gelombang tiga pada 2 Juli 2011.

    Masih butuh informasi? Kamu bisa hubungi Emma atau Sasti di nomor telepon 021-5772275 ext.7287 atau 0858 8234 9553.(rfa)
  • Minggu, 18 Juli 2010

  • Hati-Hati Cari Beasiswa

    AKARTA - Meski informasi tentang beasiswa dalam dan luar negeri banyak tersedia di internet. Ada baiknya kita hati-hati dan menyaring semua informasi yang kita dapatkan.

    Reny Y dalam buku Kuliah Gratis di Luar Negeri menjelaskan, agar informasi tentang beasiswa yang kita dapatkan dari internet akurat, kita sebaiknya mengecek silang informasi tersebut dengan informasi lain yang berkaitan. "Waspada juga terhadap beasiswa palsu," tulis Reny.

    Menurut Reny, ada empat pertanyaan sebagai indikator apakah suatu informasi tentang beasiswa akurat atau tidak. Pertama, apakah informasi tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Kedua, apakah lembaga pemberi beasiswa tersebut telah dikenal luas? Ketiga, apakah beasiswa yang ditawarkan di internet itu memiliki nilai prestise? Keempat, apakah ada informasi lain yang bisa mendukung keberadaan beasiswa tersebut?

    "Jika keempat pertanyaan tersebut bisa dijawab, maka bisa dipastikan informasi beasiswa yang kita peroleh tersebut asli," imbuh Reny.

    Reny juga menampilkan beberapa lembaga resmi yang menyediakan informasi mengenai institusi-institusi pendidikan palsu yang seringkali menawarkan beasiswa/kuliah gratis kepada para "korban"nya. Lembaga tersebut adalah The Australian Department of Education, Science, and Training (www.dest.gov.au), yang memberi informasi tentang lembaga-lembaga pendidikan palsu di Australia. Ada juga Council for higher Education Accreditation (CHEA). Di situs www.chea.org ditampilkan informasi tentang gelar palsu dan berbagai lembaga pemberi akreditasi palsu.

    Jangan khawatir tertipu. Sebab, George Gollin's Website (www.hep.uiuc.edu) memberi kita panduan untuk melacak dan mengidentifikasi gelar-gelar kesarjanaan palsu.
  • Kamis, 24 Juni 2010

  • Mendiknas : Silahkan Buktikan Saja!

    Okezone.com - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh membantah apabila Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) lebih memilih menggunakan produk software buatan luar negeri ketimbang dalam negeri.

    Bahkan, Muhammad menantang para pengusaha software untuk membuktikan tuduhan tersebut. "Silahkan dibuktikan saja," kata Muhammad di Jakarta, Rabu 23 Rabu kemarin.

    Menurutnya, Kemendiknas justru menggunakan produk lokal. Namun demikian, Nuh mengatakan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan pengusaha, yang di antaranya adalah kualitas bahan dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

    Namun Muhammad mengatakan, dari segi harga, apabila produk impor lebih mahal maka Kemendiknas diperbolehkan untuk membeli produk impor. Meskipun, kata dia, secara logika harga produk perangkat lunak produksi dalam negeri tentu lebih murah.

    Dihubungi secara terpisah, Pjs Ketua Umum Kadin Adi Putra Taher mengaku kecewa dengan pernyataan Mendikna. Menurutnya. harga software dalam negeri cukup bersaing.

    Selain itu, sambungnya, kualitas software dalam negeri sangat bagus, Hal ini, kata dia, terlihat dari produk software dalam negeri yang telah dipergunakan di luar negeri.

    "Tidak ada alasan bagi mereka untuk mengunakan produk impor, baik secara harga dan kualitas," tegas Adi.

    Hal senada diungkapkan oleh Ketua Kluster Pengembangan Konten Edukasi Harry S Chandra. Harry pun membantah jika harga jual software dalam negeri jauh lebih mahal dibanding produk impor.
    "Harga produk kita harganya kompetitif kok dengan produk impor," kata Harry.

    Lebih lanjut Harry mengatakan, dalam kontrak pengadaan barang yang dikeluarkan Kemendiknas pada tahun ini, tendernya dimenangkan oleh produk-produk impor. Dari tiga tender yang disediakan, hanya satu dimenangkan oleh perusahaan lokal.

    Harry menuturkan, Kemendiknas telah mengunakan produk software edukasi impor sejak dua-tiga tahun.

    Atas hal tersebut, Hary menyatakan, telah mengirimkan surat kepada Menteri Perindustrian untuk meminta dukungan. Dia mengaku kecewa dengan sikap Kemendiknas. Persoalannya, industri software pendidikan dalam negeri memiliki kualitas yang jauh lebih bagus dibanding produk luar negeri.

    “Masih belum mengerti mengapa Kemendiknas melakukan hal seperti itu. Padahal, negara lain saja sudah banyak yang memakai produk software edukasi buatan Indonesia,” ucapnya.

    Selain itu, produk software yang diimpor dari negara-negara tersebut tidak diakreditasikan terlebih dulu di Kemendiknas sebelum diedarkan. Padahal, seluruh produk software Indonesia yang dijual di dalam negeri harus diakreditasi dan lolos uji penyaringan terlebih dulu.

    “Kalau kita ekspor software harus disesuaikan, seperti bendera harus menggunakan warna bendera negara yang dituju. Masa software pendidikan yang beredar di kita menggunakan bendera negara lain. Ini tidak adil,” paparnya.

    Hary berharap pemerintah lebih adil dalam memberikan kepastian usaha.Lebih lanjut,dia mengatakan, pasar software pendidikan di dalam negeri cukup besar. Dia memperkirakan, perputaran bisnis dari produk ini mencapai Rp2 triliun per tahun.mencapai Rp750 miliar.
  • Minggu, 23 Mei 2010

  • Ujian Masuk PTN Dua Kali, DPR Akan Panggil Mendiknas

    Okezone - Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan memanggil Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo terkait pelaksanaan saringan ujian nasional masuk perguruan tinggi negeri yang dilakukan sebanyak dua kali pada tahun 2008 ini.

    "Ujian dua kali itu memang akibat masalah dana SPMB yang menurut beberapa universitas tidak transparan. Tapi jelas, ini bukti gagalnya Mendiknas untuk menyelesaikan masalah tersebut," kata Anggota Komisi X DPR Anwar Arifin kepada okezone, Selasa (5/8/2008).

    Dua ujian saringan masuk perguruan tinggi yang dimaksud Anwar ini adalah Ujian Masuk Bersama (UMB) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

    Menurut Anwar, seharusnya Mendiknas sebagai penanggung jawab sistem pendidikan nasional saat masalah itu terjadi tegas bertindak kepada universitas agar jian saringan masuk perguruan tinggi dilakukan satu kali.

    Pasalnya, kata Anwar, dualisme saringan ujian masuk tersebut menyebabkan rakyat menderita karena menimbulkan kebingungan di masyarakat. Sehingga jika ada pihak yang tidak mengerti, maka akan mendaftar pada dua kali ujian itu.

    "Jadi tidak efektif. Pengeluaran dua kali, kasihan rakyat. Padahal mereka membutuhkan pendidikan," kata dia.

    Untuk itu, Komisi X akan mengagendakan memanggil Mendiknas setelah masa reses anggota DPR selesai.

    "Biar nanti tidak terjadi lagi. Kalau Mendiknas tidak bisa melakukan, kami akan minta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Perpres agar universitas mematuhinya," tuturnya menjelaskan.
  • Waspadai PTS Ilegal



    Okezone - Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) meminta calon mahasiswa baru untuk waspada terhadap perguruan tinggi swasta (PTS) berbasis yayasan yang berstatus ilegal.

    Direktur Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas Hendarman mengatakan, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 63/2008 tentang Pelaksanaan Undang-Undang (UU) tentang Yayasan, setiap yayasan wajib mendaftarkan kembali ke Departemen Hukum dan Asasi Manusia (Depkum HAM).

    Peraturan ini merupakan penjabaran dari UU No 6/2001 tentang Yayasan sebagaimana diubah dengan UU No 28/2004. "Kalau tidak mendaftarkan diri ke Depkum HAM, berarti status yayasan tersebut ilegal dan harus dibubarkan," ujarnya saat pertemuan Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik) di Puncak, Bogor.

    Hingga batas akhir pendaftaran 6 Oktober 2008 lalu, banyak yayasan yang belum juga mendaftar ulang. Hendarman mengungkapkan, ada sekira 700 yayasan yang belum mendaftar ulang. Tetapi, dia belum mengetahui pasti jumlah yang menjalankan usaha pendidikan. "Datanya ada di Depkum HAM," katanya.

    Jika PTS tersebut tidak mendaftar ulang ke Depkum HAM, status mahasiswa yang menimba ilmu di sana juga termasuk mahasiswa ilegal. "Ijazah yang dikeluarkan pun tidak kami akui," ujarnya. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Suharyadi mengaku, memang masih banyak PTS berbasis yayasan yang belum mendaftarkan diri ke Depkum HAM.

    Jumlahnya saat ini, dia belum tahu pasti. Jumlah PTS ada sekira 2.850. Tetapi, bukan berarti yayasan yang bergerak di bidang pendidikan sebanyak itu. Tetapi, dia meyakinkan PTS-PTS besar dan bagus sudah mengikuti aturan perundangan tersebut.

    Menurut Suharyadi, banyak alasan yang melatarbelakangi pengelola yayasan tersebut enggan mendaftarkan diri. Di antaranya masih menunggu waktu realisasi UU BHP atau merasa belum memenuhi syarat-syarat yang diharuskan dalam UU.
  • Sabtu, 01 Mei 2010

  • Mendiknas : Ada Bunuh Diri, Ujian Nasional Tetap Diberlakukan


    Meski banyak masalah dari mulai perusakan sekolah sampai aksi bunuh diri gara-gara tidak lulus, pemerintah akan tetap memberlakukan Ujian Nasional (UN).

    Menteri Pendidikan Nasional Muhamad Nuh mengatakan, jika permasalahan tersebut tidak akan membuat UN dibubarkan.

    M Nuh mengibaratkan, jika ada orang sakit kolesterol memeriksakan diri ke laboratorium dan mendapati kolesterolnya tinggi, maka bukannya laboratoriumnya yang dibubarkan, namun si pasien yang sakit inilah harus diobati.

    “Meski UN menjadikan stres dan bahkan menjadikan anak bunuh diri, tetapi yang namanya ujian harus tetap dihadapi, dan ujian nasional masih diperlukan," katanya di Jakarta (28/4/2010).

    Menteri menambahkan, jika UN merupakan standar untuk mengetahui kualitas sebuah sekolah secara nasional. Sementara atas kasus bunuh diri pada siswa yang tidak lulus ujian, secara khusus M Nuh meminta agar keluarga diberi ketabahan.

    Dia juga mengatakan jika saat ini UN masih sangat diperlukan untuk mengetahui standar kualitas sekolah secara nasional. Dia mengaku kurang sependapat dengan solusi diadakannya ujian yang dilakukan oleh sekolah masing-masing.

    Meski angka kelulusannya tinggi, namun tidak bisa diketahui standar kualitas sekolah secara nasional.
  • Kamis, 29 April 2010

  • Prof Dr Ir Zainuddin MPd: Dosen PTS Harus Tingkatkan Potensi Akademik

    (Kopertis1.Org)Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut-NAD Prof DR Ir Zainuddin MPd mengatakan, dosen-dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS) harus meningkatkan potensi akademik.

    Hal itu dikatakan Zainuddin dalam Seminar Internasional yang berjudul ' English In Fungtional Settings' baru-baru ini di Medan. Acara tersebut diselenggarakan Growth Centre yang diketuai DR Ir Hilmi Abdullah MSc. Acara dihadiri dosen-dosen di lingkungan Kopertis Wilayah I Sumut-NAD.
    Zainuddin mengatakan, peningkatan kemampuan dosen sejalan dengan peningkatan mutu lulusan PTS. Untuk itu, dia berharap dapat terbina hubungan yang baik antara berbagai staf pengajar antar PTS di beberapa negara karena pembicara yang hadir dari Indonesia dan juga luar negeri sperti Universitas Negeri Medan (Unimed) yakni Prof Amrin Saragih, dan dari Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr T Silvana Sinar MA, serta Prof Ahmad Laud dari Kopertis serta dari Australia seperti Prof T Bell PhD, Sri Devi PhD, Prof Michael Fay dan Prof Janson.

    Pada kesempatan itu, Zainuddin juga melantik dan membentuk organisasi English Lecturer Association (ELA) yang diketuai Effendi Barus. Dan ELA tersebut untuk kalangan perguruan tinggi sebagai asosiasi dosen bahasa Inggris
    Zainuddin mengharapkan, melalui ELA dapat terbentuk proses pelayanan dan peningkatan PMB dalam bidang bahasa Inggris. Karena sumber ilmu terbesar saat ini menggunakan bahasa Inggris.

    Keberhasilan kegiatan ini berkat dukungan panitia Dr Tagor Pangaribuan, Sondang Manik M Hum Dra Afni Umri, Syaiful Bahri MAP dan group genic (mahasiswa-mahasiswa yang telah menggunakan bahasa Inggris dalam proses pembelajaran).

    Dia juga menuturkan, tujuan dari seminar itu untuk menumbuhkan budaya berdialog dan komunikasi antar university di dunia. Kemudian, membiasakan dialog antar dosen dan mahasiswa menggunakan bahasa Inggris.
    Tujuan lainnya, adalah sebagai komperatif tingkat ilmu pengetahuan dosen dari dari luar negeri dengan dosen dalam negeri

  • Search....

    Doa Seorang Anak Pada Saat Wisuda Mahasiswa/i Medicom

    ingin memberikan komentar tentang video ini, Silahkan klik disini». Terima Kasih

    Copyright @ 2013 Sahabat Medicom.